Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran (1)

Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran (1)


Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Adalah sebuah anugerah yang besar ketika seorang hamba menjumpai bulan Ramadhan yang diberkahi ini, karena ia akan memetik sekian banyak faedah yang besar jika ia benar-benar memanfaatkan bulan yang agung ini untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Diantara faedah yang besar itu adalah diraihnya kesabaran , baik dalam melakukan ketaatan kepada Allah, menjauhi kemaksiatan maupun didalam menghadapi taqdir Allah yang terasa berat dirasa oleh seorang hamba. Berikut penulis bawakan terjemah dari makalah yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala, yang bersumber dari situs resmi beliau [1].
Berkata Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullahu Ta’ala,

Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya kesabaran adalah asas yang terbesar bagi setiap akhlak yang indah dan bagi upaya menghindari akhlak yang hina. Dan sabar itu adalah menahan diri dari perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu dan menyelisihi seleranya, dalam rangka meraih ridho Allah dan pahalanya.
Termasuk cakupan kesabaran adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, dalam menghindari maksiat kepada Allah dan dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba). Ketiga hal ini -yang mengumpulkan seluruh ajaran agama Islam ini- tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran.
  1. Ketaatan-ketaatan -khususnya yang berat , seperti jihad di jalan Allah, ibadah yang kontinyu,seperti menuntut ilmu dan terus menerus berucap dan berperilaku yang bermanfa’at- (semua itu) tidaklah bisa terlaksana kecuali dengan kesabaran melakukannya dan melatih diri untuk terus menerus, senantiasa melakukannya dan membiasakan diri dengannya. Jika melemah kesabaran, melemah pula amalan-amalan sholeh ini, bahkan bisa jadi berhenti dilakukan.
  2. Dan demikian pula menahan diri dari melakukan kemaksiatan-kemaksiatan -khususnya kemaksiatan yang hawa nafsu berselera tinggi terhadapnya- tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran dan berusaha untuk sabar dalam menyelisihi hawa nafsu dan tahan merasakan beratnya hal itu.
  3. Demikian pula musibah-musibah, ketika menimpa seorang hamba, sedangkan ia hendak menghadapinya dengan ridho, syukur dan memuji Allah atas anugerah musibah itu[2], tidaklah bisa muncul sikap-sikap tersebut kecuali dengan sabar dan mengharap pahala Allah.
Kapanpun seorang hamba melatih diri untuk sabar dan mempersiapkan diri untuk tahan di dalam merasakan berat dan sulitnya hal itu, bersungguh-sungguh dan berjuang untuk menyempurnakan sikap-sikap tersebut , maka akibatnya adalah keberuntungan dan kesuksesan.
Dan tidaklah seseorang bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu dan diiringi dengan kesabaran melainkan ia akan membawa kemenangan, namun orang yang bersungguh-sungguh seperti ini jumlahnya sedikit.
Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu , terdapat dalam beberapa Hadits, (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.

Hadits Tentang Bulan Ramadhan Adalah Bulan Kesabaran

Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah madrasah yang agung dan bangunan (keimanan) yang tinggi, yang para hamba mengambil darinya banyak ibroh dan pelajaran bermanfaat yang mendidik jiwa dan meluruskannya pada bulan Ramadhan ini dan di sisa umurnya. Dan salah satu (pelajaran besar) yang diambil oleh orang-orang yang berpuasa di bulan yang agung dan musim yang diberkahi ini adalah membiasakan diri dan membawanya kepada kesabaran, oleh karena itu , terdapat dalam beberapa Hadits , (bahwa) Nabi yang sangat penyayang –shallallahu ‘alaihi wa sallam- mensifati bulan Ramadhan dengan “bulan kesabaran”.
Diantaranya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim dari Hadits Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))
“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun”. [3]
وأخرج الإمام أحمد عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنِ الْأَعْرَابِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وذكر الحديث أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ ))
Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir, dari Al-A’rabii berkata saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan beliau menyebutkan Hadits bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
(( صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ ))
“Puasa bulan Kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan menghilangkan wahar[4] dada”. [5]
An-Nasa`i meriwayatkan dari Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((صمْ شهرَ الصبرِ وثلاثةَ أيامٍ من كلِّ شهر…))
Puasalah pada bulan Kesabaran dan puasalah di tiga hari pada setiap bulan…” [6]
Dalam ketiga Hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati bulan Ramadhan sedbagai bulan kesabaran, hal itu dikarenakan terkumpul dalam bulan Ramadhan seluruh jenis kesabaran; sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang berat (yang dirasakan oleh seorang hamba)
Penjelasannya sebagai berikut :
  1. Didalam bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa, shalat Taraweh, membaca Alquran, kebaikan, Ihsan, dermawan, memberi makan, dzikir, do’a, taubat, istighfar dan selainnya dari berbagai macam ketaatan-ketaatan, dan (semua) ini membutuhkan kesabaran, agar seseorang bisa melakukannya dalam bentuk yang paling sempurna dan paling utama.
  2. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap menahan lisan dari dusta, menipu, sia-sia, mencela, mencerca, teriak, debat, menggunjing, mengadudomba, mencegah anggota tubuh lainnya dari melakukan seluruh kemaksiatan, dan (semua) ini (tertuntut) di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Sedangkan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan ini membutuhkan  kesabaran,sehingga seorang hamba sanggup menjaga dirinya agar tidak terjatuh kedalamnya.
  3. Didalam bulan Ramadhan terdapat sikap meninggalkan makan ,minum dan  semua yang terkait dengannya, sedangkan nafsunya menginginkannya. Demikian pula menahan diri dari apa yang Allah bolehkan berupa mengikuti syahwat (yang halal) dan kelezatan (yang mubah), seperti bersetubuh dan pendahuluannya, dan (semua) ini jiwa tidaklah bisa meninggalkannya kecuali dengan kesabaran, maka (kesimpulannya) Ramadhan mencakup seluruh jenis kesabaran.
[Bersambung, in sya Allah]
***
Catatan kaki
[1] dalam situs resmi beliau : http://al-badr.net/muqolat/2516
[2] Hakekatnya musibah yang menimpa dunia seseorang itu adalah anugerah Allah kepada hamba-Nya, karena banyak faedah yang didapatkan dari adanya musibah tersebut, bagi orang yang beriman.
[3] [Musnad Imam Ahmad  (7567، 8965) dan Imam Muslim  (1162), dan ini lafadz riwayat Imam Ahmad].
[4] Wahar dada adalah  benci & memusuhi serta waswas hati, ada yang berpendapat: benci & memusuhi dalam hati serta marah dan ada pula yang berpendapat selainnya. [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm]
[5] Musnad Imam Ahmad (22965). Dan Hadits dengan lafadz yang sama diriwayatkan oleh Al-Bazzar, Ath-Thabarani dan Al-Baghawi terdapat dalam Shahiih Jaimi’ish Shaghiir 3804, [http://www.saaid.net/mktarat/ramadan/299.htm].
[6] HR. An-Nasa`i ( 2756) , lihat Shahiihul Jaami’ (3794) .
___
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tidak ada komentar