Header Ads

Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 10)

Penjelasan Hadits Istikharah (Bag. 10)


Petikan Hadits :

فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

“Maka jauhkanlah urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.”

Penjelasan :

Kalimat :

فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ

“Maka jauhkan urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya”

Kalimat ini menujukkan permohonan agar dijauhkan dari keburukan secara sempurna, maka hal ini tidaklah terwujud kecuali berupa penjauhan dari dua sisi sekaligus, yaitu : dijauhkan orang yang beristikharah dari urusan yang berdampak buruk tersebut, dan sebaliknya.

Dengan demikian, penjauhan yang dikendaki didalam doa ini ada dua macam:
  1. Dijauhkan urusan yang berdampak buruk dari orangnnya, yaitu tidak ditaqdirkan urusan tersebut untuknya, bahkan ditaqdirkan urusan itu jauh darinya.
  2. Dijauhkan orangnya dari urusan yang berdampak buruk tersebut, yaitu dengan cara ia dipersulit untuk meraihnya, dan hatinyapun dijadikan tidak terikat sama sekali dengan urusan tersebut, karena jika hatinya terikat, dikhawatirkan bisa mengkristal menjadi kehendak, lalu berbuah perbuatan.
Terkadang seseorang, disebabkan karena minimnya ilmu Syari’at yang dimilikinya atau karena mengikuti hawa nafsunya, padahal Allah telah menjauhkan suatu keburukan darinya, namun hatinya masih terikat dengannya, banyak mengingat-ingatnya, bersedih, serta kecewa atas kehilangan kesempatan mendapatkannya.

Oleh karena itu seseorang membutuhkan memohon kepada Allah agar menjauhkannya dari urusan yang berdampak buruk tersebut, dan menjauhkan urusan itu darinya.

Petikan Hadits :

وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ

“Takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada”
Maksudnya: “Taqdirkan kebaikan itu terjadi dan berilah aku taufik untuk memperoleh kebaikan tersebut dimanapun dan kapanpun kebaikan itu ada”

Faedah :

Pada kalimat sebelumnya tentang permohonan kebaikan, didahulukan permohonan taqdir kebaikan dahulu:

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ

“Ya Allah, apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui bahwa urusan ini (hendaknya disebutkan urusannya) lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: …..duniaku dan akhiratku-, maka takdirkanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah”, disini memohon taqdir kebaikan terlebih dahulu, baru mohon kemudahan dan keberkahan.

Sedangkan pada kalimat permohonan dijauhkan dari keburukan,

وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Akan tetapi apabila (menurut pengetahuan-Mu) Engkau mengetahui urusan ini berdampak buruk bagiku dalam urusan agamaku, penghidupanku, dan akibatnya bagi akheratku, atau -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:….duniaku atau akhiratku-, maka jauhkan urusan tersebut dariku, dan jauhkan aku darinya, takdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengan takdir tersebut.”, maka disini diakhirkan permohonan taqdir kebaikan, karena kebaikan yang dimaksud adalah sebagai pengganti dari keburukan yang dijauhkan tersebut.
Maksud :

الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ

“dimana dan kapan saja kebaikan itu ada”

(Bersambung, in sya Allah)

***

Penulis : Ustadz Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tidak ada komentar