Header Ads

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (8)

I‘rab Lā ilāha illallāh dan Pengaruh Maknanya (8)


Rukun Lā ilāha illallāh dan Kandungannya

Sebagaimana telah diketahui, bahwa makna lā ilāha illallāh adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah atau diibadahi kecuali Allah. Di dalam kandungan kalimat tauhid tersebut terdapat dua rukun, yaitu:  
  1. An-Nafyu (Peniadaan/penolakan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid lā ilāha. rukun peniadaan di sini maksudnya adalah:
    1. Meniadakan seluruh sesembahan selain Allah.
    2. Menolak mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.
  2. Rukun Ibāt (Penetapan), rukun ini diambil dari petikan kalimat tauhid illallāh. Rukun penetapan disini maksudnya:
    1. Menetapkan satu-satunya Sesembahan yang benar adalah Allah Ta‘ala.
    2. Menetapkan bahwa peribadatan hanya ditujukan kepada Allah saja.

Faedah:

  • Ibadah, sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah raimahullāhadalah sebuah nama yang mencakup seluruh yang dicintai Allah dan diridai-Nya, berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin.
  • Tauhid itu mencakup ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, demikian pula syirik dan kekufuran pun mencakup ucapan dan perbuatan lahir maupun batin.
  • An-Nafyu saja bukan tauhid dan Al-Itsbat saja bukan tauhid, karena tauhid adalah An-Nafyu dan Al-IbātSudah seharusnyalah dalam mendidik umat Islam ini dengan pendidikan An-Nafyu dan Al-Ibāsekaligus, yaitu dengan penolakan,berlepas diri, benci karena Allah, membenci kesyirikan dan kekafiran serta pelakunya, juga menyatakan kekafiran orang yang dikafirkan Allah dalam Alquran dan As-Sunnah, tanpa berlebihan ataupun mengurangi dari batasan yang telah disebutkan dalam Alquran dan As-Sunnah. Demikian pula mendidik masyarakat dengan  Al-Ibāt, Al-Walā`, cinta Allahcinta karena Allah dan cinta kepada tauhid dan Ahli Tauhid.

Konsekuensi Kalimat Tauhid

Seseorang yang bersaksi dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh ini punya konsekuensi sebagai berikut.
  1. Mencintai Allah di atas segala sesuatu.
  2. Mencintai tauhid.
  3. Mencintai dan menolong ahli tauhid.
  4. Membenci syirik.
  5. Membenci musuh Allah, orang musyrik dan orang kafir.
Tentunya bentuk cinta dan benci disini, sesuai dengan aturan syari’at Islam yang agung tanpa bersikap melampaui batas syari’at atau menguranginya, sebagaimana dalam syahadat yang kedua. Di dalamnya terdapat penjagaan dari dua sikap yang tercela tersebut, yaitu dari sikap melampaui batasan syari’at atau menguranginya, karena dalam syahadat yang kedua seorang bersaksi, bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat tersebut mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah hanya sebatas hamba Allah, tidak boleh dilebihkan dari batasan syar’i sampai melampaui batasan hamba, sehingga menjadi sesembahan. Ini dari satu sisi.
Dari sisi lain, syahadat yang kedua mengandung keyakinan bahwa Nabi Muhammad bin Abdullah adalah sosok utusan Allah -bahkan utusan Allah yang paling mulia-, sehingga tidak boleh dikurangi derajatnya dari batasan syar’i ini.
[Bersambung]
***
[serialposts]
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

Tidak ada komentar