Syarah Ushul Tsalatsah [7]

closeup photo of educational book lot

DALIL MACAM-MACAM IBADAH

Muqoddimah
Definisi Ibadah :
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitabnya Al-'Ubudiyyah,hal.4 :

اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال و الأعمال الباطنة و الظاهرة

Sebuah nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah,baik berupa ucapan maupun perbuatan,yang batin (hati) maupun yang zhahir.
Faedah :
Dari definisi di atas dapat diambil faedah sebagai berikut :
1. Inti ibadah adalah jika ada dalil yang menunjukkan bahwa suatu perkara itu adalah perkara yang dicintai oleh Allah. Sedang sesuatu perkara dapat dikategorikan sebagai perkara yang dicintai oleh Allah,jika: diperintahkan perkara itu, pelakunya dipuji, pelakunya diberi pahala atau perkara dan pelakunya dicintai oleh Allah Ta'ala.

2. Macam-macam ibadah adalah :
a. QaululQalbi (ucapan hati) : contohnya adalah keyakinan dan pembenarannya.
b. AmalulQalbi (amal hati) : contohnya adalah Niat,Ikhlas,Tawakkal,Takut,Cinta,Harap,dan segala yang berupa gerakan hati yang membuahkan amal zhohir dan ucapan lisan.
c. QoululLisan (ucapan lisan): contohnya adalah ucapan Syahadatain,baca Al-Qur`an,berdzikir,dll.
d. AmalulJawarih (amal anggota tubuh zhahir): contohnya adalah shalat,puasa,zakat, haji,dll.
Dari empat macam ibadah di atas, dapat disimpulkan bahwa :
Ibadah ditinjau dari zhahir atau batinnya terbagi menjadi dua, yaitu : Ibadah zhahir (anggota tubuh zhahir) dan ibadah batin (hati).
Ibadah ditinjau dari ucapan atau perbuatan, terbagi menjadi dua pula, yaitu : Ibadah Qauliyyah (ucapan) dan Ibadah 'amaliyyah (perbuatan).


3. Keempat macam ibadah tersebut, jika dilaksanakan dengan benar dan dipersembahkan kepada Allah saja berarti tauhid, sedangkan jika ibadah-ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka berarti itu adalah syirik,karena definisi syirik dalam peribadatan (Uluhiyyah) adalah memalingkan peribadatan kepada selain Allah.
4. Karena definisi syirik dalam peribadatan (Uluhiyyah) adalah memalingkan peribadatan kepada selain Allah, dan karena ibadah terbagi dua ibadah zhahir dan batin, maka syirik juga ada yang zhahir dan yang batin,sehingga seseorang bisa saja keluar dari agama Islam dengan syirik batin,karena ia telah memalingkan ibadah batin kepada selain Allah.
Kesimpulan :
Seorang muslim yang telah mendapatkan anugerah keimanan dan beragama Islam kemudian tidak mensyukurinya sehingga tidak menjaga dan meningkatkannya, maka sangat memungkinkan seorang muslim bisa murtad dengan melakukan salahsatu dari bentuk pembatal keislamannya.

IBADAH ADA YANG BERNILAI TAUHID DAN ADA YANG BERNILAI SYIRIK

وعرفه الشيخ السعدي فقال:

"إن حدّ الشرك الأكبر وتفسيره الذي يجمع أنواعه وأفراده أن يصرف العبد نوعاً أو فرداً من أفراد العبادة لغير الله، فكل اعتقاد أو قول أو عمل ثبت أنه مأمور به من الشارع فصرفه لله وحده توحيد وإيمان وإخلاص، وصرفه لغيره شرك وكفر فعليك بهذا الضابط للشرك الأكبر الذي لا يشذ عنه شيء"

(انظر القول السديد [43]، وانظر الحق الواضح المبين


1. IBADAH DOA
Dalil dari Sunnah bahwa doa adalah ibadah

MATAN
Disebutkan dalam hadits (tentang dalil do’a, pent.) :
الدعاء مخ العبادة
Do’a itu adalah intisari ibadah”. 1

Penjelasan :
Dari ucapan sang penulis kitab Tsalatsatul Ushul ,Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullahu di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Dalil dan Alasan Pendalilan :
Hadits yang disebutkan penulis memang dho'if (lemah), namun, sebagai gantinya, ada sebuah hadits shahih yang tidak terdapat dalam matan dan disebutkan oleh para pensyarah (penjelas) kitab Tsalatsatul Ushul ini, yaitu :

الدعاء هو العبادة

Do'a adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ibadah”.2
Hadits yang agung ini menunjukkan bahwa do'a itu adalah ibadah, karena hadits ini mengandung :
1. Penegasan : yaitu menguatkan makna bahwa do'a adalah sesuatu yang sangat mendasar dan termasuk perkara yang terbesar dalam ibadah.
2. Pembatasan :
bahwa seolah-olah hanya do'a lah yang menjadi kandungan dari sebuah ibadah.
Ini adalah gaya bahasa Arab (majas) untuk mengungkapkan betapa sangat besar kedudukan do'a sebagai sebuah ibadah .

Dalil dari Alquran bahwa doa adalah ibadah

Matan
Dalil doa adalah firman Alah Ta’ala :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhan kalian berfirman : ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian’. Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Alasan Pendalilan :
Dalam QS. Ghafir: 60 ini terdapat 4 alasan pendalilan bahwa doa adalah ibadah :
1. Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk berdo'a:
ادْعُونِي
Berdo’alah kalian kepada-Ku”, dan ini menunjukkan bahwa berdoa adalah perkara yang dicintai-Nya, karena Allah Ta'ala tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali mencintai sesuatu tersebut. Dan setiap perkara yang dicintai-Nya berarti terpenuhi definisi ibadah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau Al-'Ubudiyyah :
الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ تَعَالَى وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ.
Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta'ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang zhahir (anggota tubuh yang nampak).3.
Dengan demikian, inti ibadah adalah perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta'ala.

2. Allah Ta'ala menjanjikan kepada hamba-Nya yang berdoa dengan ikhlas akan dikabulkan doanya4, Allah Ta'ala berfirman :

أَسْتَجِبْ لَكُمْ
...niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian”.
Janji Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa Allah Ta'ala meridhoi dan mencintai perbuatan berdoakepada-Nya tersebut, dengan demikian terpenuhilah kriteria ibadah.

3. Allah Ta'ala menamai doa dengan ibadah, pada petikan firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي
Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku...”.
Hal ini nampak dari konteks ayat ini dan sesuai dengan tafsir As-Sudi yang dibawakan Imam Ath-Thabari rahimahullah dalam kitab Tafsir beliau,
عن السديّ{ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي } قال: عن دعائي.
(Diriwayatkan) dari As-Sudi tentang
{ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي }, beliau berkata: (Sesungguhnya, orang-orang yang sombong) dari berdoakepada-Ku”5

4. Pada petikan firman Allah Ta'ala :
سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

...akan masuk neraka dalam keadaan hina dina”.

Allah Ta'ala mengancam orang yang sombong dan enggan berdoa kepada-Nya akan dimasukkan neraka dalam keadaan hina dina. Hal ini menunjukkan bahwa doa adalah perbuatan yang diperintahkan dan dicintai-Nya, sehingga doa digolongkan kedalam ibadah, karena terpenuhi kriterianya.

Catatan :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hakekatnya QS. Ghaafir: 60 ini mengandung do'a masalah (berdo'a) maupun do'a ibadah (beribadah selain berdo'a) sekaligus, beliau mengatakan :

ومن ذلك قوله تعالى : {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} غافر/60 ، فالدُّعاء يتضمن النّوعين ، وهو في دعاء العبادة أظهر ؛ ولهذا أعقبه {إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي} الآية ، ويفسَّر الدُّعاء في الآية بهذا وهذا .

Diantaranya adalah firman Allah Ta'ala :
{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}, do'a (yang dimaksud disini) mengandung dua macam do'a sekaligus, dan lebih kuat jika dibawakan kepada makna do'a ibadah, oleh karena itu Allah iringi setelahnya dengan :
{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي} sampai akhir ayat. Jadi, do'a pada ayat ini ditafsirkan dengan ini (do'a masalah) maupun dengan itu (do'a ibadah)”6.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan :
والدعاء نوعان: دعاء عبادة، و دعاء مسألة، و العابد داع كما أن السائل داع، وبهما فسر قوله تعالى: {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}غافر: الآية 60، قيل: أطيعوني أثبكم، و قيل: سلوني أعطكم

Do'a itu ada dua macam, yaitu : do'a masalah dan do'a ibadah. Orang yang beribadah hakekatnya berdo'a (memohon pahala) sebagaimana orang yang memohon hakekatnya juga berdo'a.
Dengan kedua macam do'a inilah ditafsirkan firman-Nya Ta'ala :

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}

(Ayat ini) ada yang menafsirkan : “Ta'atlah kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pahala” dan ada pula yang menafsirkan : “Berdo'alah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permintaan kalian”7.

QS. Ghaafir: 60 adalah dalil umum
Dengan demikian, hakekatnya QS. Ghaafir: 60 merupakan jenis dalil umum, namun tidak masalah dibawakan untuk pendalilan tentang pembuktian do'a merupakan ibadah secara khusus dan cara pendalilan dengan metode :
Kandungan dalil lebih umum dari kesimpulan yang diambil atau kesimpulan yang diambil hanyalah sebagian dari kandungan dalil” ini telah dikenal oleh para Sahabat radhiyallahu 'anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka, khususnya masalah Tauhid.

Pengkabulan ada 2 macam
Selanjutnya, jika makna do'a yang terkandung dalam QS. Ghaafir: 60 itu mencakup dua macam do'a sekaligus, maka pengkabulan dan ancaman dalam ayat tersebut pun juga mencakup kedua macam do'a.
Pengkabulan dalam petikan firman Allah :

أَسْتَجِبْ لَكُمْ
...niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian”, mencakup :
  • Pengkabulan terhadap do'a masalah, baik dengan diberi apa yang diminta, ditunda sebagai simpanan kebaikan di akherat atau dihilangkan keburukan yang penghilangan keburukan tersebut sepadan dengan kebaikan yang diminta.
  • Pengkabulan terhadap do'a ibadah, dengan diterima ibadah tersebut dan diberi pahala pelakunya.
Hal inilah yang ditunjukkan oleh ucapan Ibnul Qoyyim di atas.

Ancaman dalam ayat ini
Demikian pula ancaman yang terdapat dalam ayat ini,

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.”

mencakup ancaman bagi orang yang meninggalkan do'a masalah dan juga ancaman bagi orang yang meninggalkan do'a ibadah kepada Allah Ta'ala8.
Macam-macam Doa
Do'a di dalam terminologi disiplin ilmu tauhid terbagi dua macam, yaitu : do'a ibadah dan do'a mas`alah.

1. Do'a ibadah adalah seseorang beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dalam rangka mendapatkan pahala dari-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. Do'a ibadah ini, tidaklah boleh dipersembahkan kepada selain Allah dan apabila dipersembahkan kepada selain Allah, maka syirik akbar.
2. Do'a mas`alah adalah permintaan kebutuhan.
Apabila do'a mas`alah ini berasal dari hamba ditujukan kepada Allah, maka termasuk ibadah, karena mengandung sikap butuh kepada Allah dan mengandung pula keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Luas Pemberian dan Rahmat-Nya.

Macam-macam Permintaan
Adapun perincian hukum permintaan dan macam-macamnya adalah sebagai berikut :
1. Permintaan yang syirik akbar
Permintaan yang ditujukan kepada selain Allah itu menjadi syirik akbar apabila :
  • Isi permintaan tersebut berupa perkara yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah, sama saja makhluk yang dimintai itu hidup, mati (mayyit), makhluk hidup hadir maupun ghoib (tidak hadir dan secara bukti ilmiah atau hukum sebab tidak bisa dihubungi).
  • Makhluk yang dimintai adalah makhluk mati atau makhluk hidup namun ghoib, sama saja isi permintaannya perkara yang makhluk mampu atau tidak mampu memenuhinya, karena orang yang mati atau makhluq hidup yang gaib tidak memungkinkan untuk bisa memenuhi permintaan apapun, maka meminta kepada kedua makhluk tersebut menunjukkan orang yang meminta itu meyakini bahwa makhluq yang mati atau makhluk hidup yang gaib tersebut memiliki kekhususan atau kemampuan sebagaimana Allah.

2. Permintaan yang bukan syirik
  • Makhluk yang dimintai adalah makhluk hidup, hadir dan mampu memenuhi permintaan tersebut.


2. IBADAH KHAUF (TAKUT)

MATAN
Dalil ibadah Khauf (takut) adalah firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), oleh karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175).

PENJELASAN
Jenis ibadah Khauf
QS. Ali Imran: 175 ini merupakan dalil bahwa diantara jenis Khauf (takut) ada yang tergolong ibadah.
Dan ibadah takut tersebut tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.
Barangsiapa yang takut kepada selain Allah dengan jenis takut yang ibadah tersebut, maka berarti ia telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah takut kepada selain-Nya.9

Alasan Pendalilan :
Ada dua alasan pendalilan dalam ayat tersebut untuk menunjukkan bahwa diantara jenis Khauf (takut) ada yang tergolong ibadah, yaitu :
1. Dalam petikan firman Allah : {فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ},
Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk takut kepada-Nya dan melarang hamba-Nya dari takut kepada wali-wali setan (makhluk), hal ini menunjukkan bahwa takut adalah ibadah, karena Allah Ta'ala memerintahkannya dan tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali Allah mencintainya. Dan setiap perkara yang dicintai Allah, maka perkara itu adalah ibadah.

2. Sedangkan dalam firman Allah : {إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ},
Allah Ta'ala menjadikan takut sebagai syarat keimanan.
Tentu tidaklah suatu perkara dijadikan syarat syahnya keimanan seseorang melainkan perkara tersebut adalah ibadah.
Dan jika seorang hamba takut kepada selain Allah dengan jenis takut yang ibadah ini, maka ia bukanlah orang yang beriman, karena ia telah memalingkan peribadatan takut kepada selain Allah.


Jenis-jenis ibadah takut

I. Khauf (Takut) :
Khauf (takut) yang jenis ibadah berciri khas sebagai berikut :
-Rasa takut yang disertai pengagungan dan perendahan diri yang sempurna terhadap sesuatu yang ditakuti, sebagaimana layaknya mengagungkan sesembahan dan merendahkan diri kepadanya.

- Rasa takut yang mendorong pelakunya untuk taat mutlak kepada sesuatu yang ditakuti, sebagaimana seorang muslim takut kepada Allah. (melakukan apapun yang diperintahkannya dan menjauhi apapun yang dilarangnya).

-Bahaya yang ditakutkan adalah perkara yang hanya Allah yang mampu menimpakannya, seperti menimpakan musibah tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba mati, tiba-tiba jatuh miskin dan yang semisalnya.

- Pelakunya bertaqarrub (mendekatkan diri) dan beribadah dengan rasa takut tersebut kepada sesuatu yang ditakutinya.

Maka rasa takut yang jenis ibadah ini, akan bernilai :
1. Tauhid, apabila hanya dipersembahkan kepada Allah Ta'ala semata, maksudnya seorang hamba hanya takut kepada Allah dengan jenis takut yang ibadah ini, karena Allah lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia lah yang memuliakan sebagian hamba yang dikehendaki-Nya, menghinakan sebagian hamba lain yang dikehendaki-Nya dan memberi anugerah kepada siapa yang dikehendaki-Nya serta mencegah pemberian dari siapa yang dikehendaki-Nya. Di tangan-Nya lah manfa'at dan mudhorot (bahaya).

Dalil ibadah Khauf (takut) yang bernilai tauhid ini terdapat dalam firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), oleh karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175).
Dalam ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk takut kepada-Nya dan melarang hamba-Nya dari takut kepada wali-wali setan (makhluk).

2. Syirik akbar (besar), apabila dipersembahkan kepada selain Allah, maksudnya seorang takut kepada selain Allah dengan jenis takut yang ibadah tersebut dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Inilah rasa takut yang ada pada hati kaum musyrikin, penyembah kuburan dan yang semisalnya kepada berhala, patung, wali, ruh orang sholeh yang telah meninggal dunia, mayit, jin dan selainnya dari sesembahan selain Allah.
Kaum musyrikin tersebut merasa takut kalau sesembahan-sesembahan selain Allah tersebut menimpakan bahaya tanpa sebab yang jelas kepada mereka persis sebagaimana Allah menimpakan bahaya kepada hamba-Nya, ketika mereka merasa kurang menghormati, kurang dalam memberi sesajen/tumbal dan kurang memenuhi hak sesembahan selain Allah tersebut.

Atau ketika mereka terkena musibah besar secara mendadak, kematian, jatuh sakit, kecelakaan dan musibah lainnya, serta merta mereka menyimpulkan bahwa musibah itu dikarenakan kemarahan wali, ruh orang sholeh yang telah meninggal dunia, mayit, jin tersebut, karena selama ini kurang menghormati sesembahan selain Allah tersebut, sehingga merekapun takut kepada sesembahan-sesembahan tersebut sebagaimana takutnya mereka kepada Allah Ta'ala.

Padahal sesembahan-sesembahan mereka tersebut sebenarnya tidak mampu menimpakan bahaya sebagaimana yang mereka takutkan, tetapi mereka yakini sesembahan-sesembahan tersebut dapat memberi manfaat dan mudhorot kepada mereka.


3. IBADAH RAJA` (HARAPAN)

MATAN
Dalil Raja’ (harapan) adalah firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan dengan apapun dalam beribadah kepada Robbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

PENJELASAN
Jenis ibadah Raja` (Harap)
Roja` adalah keterkaitan hati dengan sesuatu yang diinginkan untuk didapatkan di waktu yang akan datang.

Dalil :
Firman Allah Ta’ala dalam Al-Kahfi: 110 :
Ayat tersebut merupakan dalil bahwa diantara jenis Raja’ (harapan) ada yang tergolong ibadah10.

Dengan demikian, ibadah mengharap tersebut tidak boleh ditujukan kepada selain Allah dan barangsiapa yang mengharap kepada selain Allah dengan jenis harapan yang tergolong ibadah tersebut, maka berarti ia telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah harap kepada selain-Nya.
Alasan Pendalilan :
Dalam ayat tersebut, Allah Ta'ala memuji orang yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya.
Hal ini menunjukkan bahwa harapan tersebut termasuk ibadah, karena Allah memujinya. Dan setiap perkara yang dipuji oleh Allah pastilah perkara itu merupakan ibadah.
Dalam ayat itu pula, Allah melarang seorang hamba mempersekutukan-Nya dalam semua bentuk peribadatan kepada-Nya, termasuk dalam masalah ibadah mengharap.

Roja` (harapan) yang jenis ibadah berciri khas sebagai berikut :
- Adanya ketergantungan hati yang mengandung perendahan dan ketundukan yang sempurna dan totalitas yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
- Sesuatu yang diharapkan adalah jenis perkara yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah Ta'ala, seperti : harapan selamat dari neraka dan masuk surga, sembuh dari penyakit (bukan sekedar harapan agar diobati semata) dan harapan agar selamat dari segala musibah.

Maka roja` (harapan) yang jenis ibadah ini, akan bernilai :
1. Tauhid, apabila hanya dipersembahkan kepada Allah Ta'ala semata.
Maksudnya seorang hamba hanya berharap kepada Allah semata untuk mendapatkan sesuatu yang hanya Allah sajalah yang mampu memenuhinya, karena hal itu terkait dengan kekhususan Allah, sehingga selain-Nya tidak mampu memenuhinya.

Demikian pula, seorang Ahli Tauhid berharap hanya kepada Allah semata dengan disertai ketergantungan hati yang mengandung perendahan dan ketundukan yang sempurna dan totalitas,karena Allah Ta'ala Maha Kuasa atas segala sesuatu dan hanya Allah Ta'ala sajalah yang mampu menjadikan suatu sebab berpengaruh.

Dengan demikian tidak boleh seseorang yang bertauhid berharap kepada selain Allah dengan jenis harapan yang ibadah ini.

2. Syirik akbar (besar), apabila harapan yang jenis ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah.
Maksudnya seorang berharap kepada selain Allah dengan jenis harapan yang ibadah ini dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari Islam.
Contoh harapan yang syirik akbar ini adalah harapan seseorang kepada seorang kyai agar menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya kedalam surga, harapan pada seorang dukun agar menyembuhkannya dari penyakit dan agar menyelamatkannya dari segala bentuk musibah.

Contoh yang lainnya, harapan seseorang kepada seorang wali dalam bentuk sampai hatinya bergantung totalitas dengan merendahkan diri dan tunduk yang sempurna kepada wali tersebut dalam mengkabulkan harapannya.






4. IBADAH TAWAKKAL

MATAN

Dalil Tawakkal (berserah diri) adalah firman Allah Ta’ala :

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23).
Dan firman-Nya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dialah Yang Mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3).

PENJELASAN
Ibadah Tawakal
Definisi tawakal, pada asalnya adalah bersandar (al-i'timaad), sehingga tawakal kepada Allah Ta'ala adalah bersandarnya hati dengan benar kepada Allah dalam mendapatkan manfa'at dan menghindari mudhorot11 diiringi dengan mengambil sebab (usaha) yang diizinkan dalam Islam.

Dalil tentang hal ini QS. Al-Maidah : 23 dan Ath-Thalaq : 3, kedua ayat tersebut merupakan dalil yang menunjukkan bahwa tawakal adalah ibadah dan pada ayat yang pertama juga terdapat dalil bahwa tidak boleh seorang hamba bertawakal kepada selain Allah.
Barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allah, maka berarti ia telah menyembah selain-Nya, karena telah mempersembahkan ibadah tawakal kepada selain-Nya, oleh karena itu dalam ayat pertama, Allah jadikan tawakkal sebagai syarat keimanan.

Alasan Pendalilan :
Dalam ayat yang pertama, terdapat dua alasan pendalilan, yaitu:
1. Didahulukannya {عَلَى اللَّهِ}sebelum {فَتَوَكَّلُوا} menunjukkan makna pembatasan, maksudnya Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertawakal hanya kepada Allah saja.

2. Dalam petikan ayat : {إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}, Allah Ta'ala menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai syarat keimanan.
Jadi, barangsiapa yang bertawakal kepada selain Allah, maka berarti ia bukan orang yang beriman kepada Allah.

Adapun alasan pendalilan dalam ayat yang kedua yaitu:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Dialah Yang Mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq : 3).

Allah Ta'ala menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertawakal kepada-Nya saja.
Janji tersebut menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah saja merupakan ibadah, mengapa?
Karena tidaklah Allah Ta'ala menjanjikan suatu janji untuk balasan dari sebuah sikap, kecuali menunjukkan bahwa sikap tersebut adalah suatu ibadah yang tertuntut untuk dilakukan oleh seorang hamba. Allah mengiming-imingi hamba-Nya agar bertawakal kepada-Nya dengan janji kecukupan dari-Nya.

Jenis jenis tawakal
1. Ibadah tawakal yang tauhid
Yaitu tawakal kepada Allah semata dengan merealisasikan definisi tawakal yang telah disebutkan di atas.
Tawakal jenis ini adalah ibadah hati yang hakekatnya mencakup tiga perkara:
  • Keyakinan
yaitu meyakini bahwa semua urusan itu tergantung kepada Allah, jika Allah menghendaki pastilah terjadi, namun jika tidak, tentulah mustahil bisa terjadi. Allah lah satu-satunya yang menciptakan sebab dan menjadikan sebab itu berpengaruh.
  • Penyandaran :
yaitu bersandarnya hati kepada Allah semata, menyerahkan urusan kepada Allah 'Azza wa Jalla dan percaya kepada Allah dengan seyakin-yakinnya bahwa semua urusan itu tergantung kepada Allah.
  • Usaha
yaitu mengambil sebab (usaha) yang diizinkan dalam Islam demi tercapainya manfa'at dan terhindarnya dari mudhorot.

Tawakal jenis ini termasuk salah satu jenis ibadah yang paling mulia dan termasuk paling tinggi dari kedudukan tauhid serta salah satu tanda kebenaran iman seorang hamba. Hukum tawakal jenis ini adalah wajib.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23).

2. Ibadah tawakal yang syirik akbar
Tawakal yang satu ini disebut juga tawakkal sirri.
Tawakal jenis ini bentuknya yaitu:
  1. Bersandar hati kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu memenuhinya kecuali Allah.
  2. Bersandar hati totalitas kepada orang yang telah meninggal12 maupun makhluk hidup yang namun tidak hadir (ghoib)13 dalam mendapatkan manfaat dan menghindari kemudharatan, karena hal ini tidak mugkin terjadi kecuali dengan meyakini bahwa mayit atau makhluk tersebut mempunyai kekuasaan untuk mengatur urusan sebagaimana Allah.
Contohnya : bertawakal kepada wali yang masih hidup agar selamat dari neraka dan masuk surga.
Demikian juga tawakalnya seseorang kepada kyai yang telah meninggal agar lancar rezekinya.

Referensi terjemah matan :




1. Hadits dho'if, didho'ifkan oleh Al-Albani.
2. HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan selainnya, dishahihkan Al-Albani.
3. Al-'Ubudiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 4 atau silahkan baca : https://muslim.or.id/27050-hidup-tak-sekedar-hidup-2.html
4. Taisiril Wushul, hal. 4..., Syaikh Nu'man bin Abdul Karim.
5. Quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura40-aya60.html#Tabary
6. Majmu'ul Fatawa : 10/14-15, dinukil dari https://Islamqa.info/ar/113177
7. Syarah Tsalatsatul Ushul, hal. 179, Syaikh Abdul Aziz Dakhil.
8. Diintasarikan dari : Quran.ksu.edu.sa/Tafseer/Tanweer/sura40-aya60.html#Tanweer
9. Untuk mengetahui kapan sebuah rasa takut dikatakan ibadah, silahkan simak pada artikel tersendiri, in sya Allah.
10. Untuk mengetahui kapan sebuah rasa harap dikatakan ibadah, silahkan simak pada artikel tersendiri, in sya Allah.
11. Bahaya, kerugian, kerusakan, kerusakan ataupun keburukan.
12. Sama saja baik orang yang sudah meninggal tersebut adalah nabi, wali Allah, ahli maksiat ataupun selainnya.
13. Secara bukti ilmiah atau hukum sebab tidak bisa dihubungi.

Tidak ada komentar