Header Ads

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (6) : Tauhid Adalah Inti Ajaran Islam

Penjelasan Kasyfus Syubuhat (6) : Tauhid Adalah Inti Ajaran Islam


Dasar kedua Definisi Ibadah

Dari definisi tauhid dalam matan kitab Kasyfusy Syubuhat yang telah disebutkan, dapat kita ambil kesimpulan bahwa memahami istilah ibadah dengan benar adalah sebuah perkara yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itulah, dalam dua belas kaidah atau materi pokok yang terdapat dalam bagian pembukaan, penyusun sebutkan perkara dasar yang kedua adalah definisi ibadah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitabnya Al-‘Ubudiyyah, halaman 4 menjelaskan definisi ibadah sebagai berikut.
اسم جامع لكل ما يحبه الله و يرضاه من الأقوال و الأعمال الباطنة و الظاهرة
“Sebuah nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah,baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin (hati) maupun yang lahir”.
Faedah
Dari definisi di atas dapat diambil faedah sebagai berikut
  1. Inti ibadah adalah adanya dalil yang menunjukkan bahwa suatu perkara itu adalah perkara yang dicintai oleh Allah. Sedang sesuatu perkara dapat dikategorikan sebagai perkara yang dicintai oleh Allah, jika terdapat dalam syari’at Islam, bisa dalam bentuk bahwa dalam syari’at, perkara itu diperintahkan, pelakunya dipuji, pelakunya diberi pahala atau perkara maupun pelakunya dicintai oleh Allah Ta’ala.
  2. Macam-macam ibadah adalah:
    1. Qaulul Qalbi (ucapan hati): contohnya adalah keyakinan dan pembenaran hati.
    2. Amalul Qalbi (amal hati)contohnya adalah niat, ikhlas, tawakkal, takut, cinta, harap, dan segala yang berupa gerakan hati yang membuahkan amalan badan dan ucapan lisan.
    3. Qoulul Lisan (ucapan lisan): contohnya adalah ucapan syahadat, membaca Al-Qur`an, berdzikir, dan yang lainya.
    4. Amalul Jawarih (amal anggota tubuh): contohnya adalah shalat, puasa, zakat, haji, dan yang lainya.
Dari empat macam ibadah di atas, dapat disimpulkan bahwa,
  • Ibadah ditinjau dari lahir atau batinnya terbagi menjadi dua, yaitu ibadah lahir (anggota tubuh lahir) dan ibadah batin (hati).
  • Ibadah ditinjau dari ucapan atau perbuatan, terbagi menjadi dua pula, yaitu ibadah qauliyyah (ucapan) dan ibadah ‘amaliyah (perbuatan).
  1. Keempat macam ibadah tersebut, jika dilaksanakan dengan benar dan dipersembahkan kepada Allah semata berarti Tauhid, sedangkan jika ibadah-ibadah tersebut dipersembahkan kepada selain Allah, maka berarti itu adalah syirik, karena definisi syirik dalam peribadatan (uluhiyah) adalah memalingkan peribadatan kepada selain Allah.
  2. Karena definisi syirik dalam peribadatan (uluhiyah) adalah memalingkan peribadatan kepada selain Allah, dan karena ibadah terbagi dua,  yaitui badah lahir dan batin, maka syirik juga ada yang lahir dan yang batin, sehingga seseorang bisa saja keluar dari agama Islam dengan syirik batin, karena ia telah memalingkan ibadah batin kepada selain Allah.
Tauhid adalah inti ajaran Islam, agama para rasul ‘alaihimush shalatu was salam
Petikan Matan
وهو دين الرسل الذي أرسلهم الله به إلى عباده
“Tauhid adalah agama para rasul yang dengannya Allah utus mereka kepada hamba-hamba-Nya”
Penjelasan
Setelah menjelaskan definisi tauhid uluhiyah, maka penulis rahimahullah menyampaikan bahwa tauhid inilah yang dengannya Allah utus mereka kepada hamba-hamba-Nya.
Syaikh Sholeh Alusy Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa seluruh para rasul diutus membawa ajaran tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam peribadatan. Bukanlah yang menjadi pokok dari pengutusan para rasul adalah penjelasan amal-amal dibawah tingkatan tauhid, seperti halal dan haram, akan tetapi semata-mata pada asalnya mereka diutus untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena Tauhidullah ‘Azza wa Jalla adalah hikmah yang dikehendaki (oleh Allah) dari penciptaan jin dan manusia, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 5).
Ibadah dalam ayat tersebut maksudnya adalah mentauhidkan Allah. Dalil yang menunjukkan bahwa Tauhid adalah agama para rasul ‘alaihimush shalatu was salam dan setiap rasul mendakwahkan Tauhid adalah:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ    
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan selain Allah) itu” (QS. An-Nahl: 36).
Setiap rasul ‘alaihish shalatu was salam menyerukan kepada umatnya untuk mentauhidkan Allah Ta’ala. Dari mulai utusan Allah yang pertama, Nuh ‘alaihis salam –sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-A’raaf: 59 sampai utusan Allah yang terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-A’raaf: 158. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi inti permusuhan dan perselisihan antara para rasul ‘alaihimush shalatu was salam dengan kaum musyrikin.
Konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul ‘alaihimush shalatu was salam
Penjelasan tentang konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah suatu perkara yang sangat penting, dengan inilah kita dapat memahami betapa ilmiah dan cerdiknya sang penulis membawakan hal ini saat menjelaskan definisi tauhid dan kedudukannya.
Mengapa demikian? Karena konsekuensi Tauhid dikatakan sebagai agama para rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah sebagai berikut.
  1. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain Allah, berarti telah menentang ajaran seluruh para rasul ‘alaihimush shalatu was salam.
  2. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dengan beribadah kepada selain Allah, berarti telah mendustakan seluruh rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Mengapa? Karena mereka semuanya menyerukan tauhid dan menyatakan bahwa tauhid sebagai sebuah kebenaran, sedangkan syirik adalah sebuah kebatilan. Adapun seorang musyrik yang menyekutukan Allah, ucapan ataupun perbuatannya, seolah-olah mengatakan “Seluruh rasul berdusta dan syirik adalah kebenaran!” Ia tidak terima bahkan menentang jika syirik itu dilarang dan dikatakan sebuah kebatilan1.
***
(bersambung)
  1. Disimpulkan dari Syarh Kasyf Asy-Syubuhat, Syaikh  Sholeh Alusy Syaikh, hal. 44-45 ↩
____

[serialposts]

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Sumber : Muslim.or.id

    Tidak ada komentar