Syarah Ushul Tsalatsah [10]

six black books on top of brown wooden table
Ihsan sampai akhir Ashl ke-2

الحمد لله الكريم المنان، ذي الفضل والإحسان الذي هدانا للإيمان، وفضّل ديننا على سائر الأديان، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أنْ محمداً عبدُه ورسوله، المبعوث إلى الثقلين الإنس والجان، صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابه، والتابعين لهم بإحسان.


MATAN
Tingkatan kedua: Iman.
Iman memiliki 70 cabang lebih. Yang paling tinggi adalah ucapan (لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu adalah cabang dari iman.
Rukun Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman terhadap takdir baik perkara yang ditaqdirkan itu baik, maupun perkara yang ditaqdirkan itu buruk.”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Kadar masing-masing dari Rukun Iman
Rukun Iman ada enam, dan jika ditinggalkan satu saja (totalitas atau dalam batasan Ashlul Iman) maka pelakunya tidaklah dikatakan sebagai seorang mukmin, karena sebenarnya ia tidak beriman dengan sah.

Dan masing-masing dari Rukun Iman terdapat kadar ashlul Imannya dan kamalul Imannya.

Karena Iman terbagi 2 :
  1. أصل الإيمان (Pokok Iman :batasan minimal kesahan iman,jika ditinggalkan kufur)
  2. كمال الإيمان ada 2 macam :
  1. الواجب (Kesempurnaan Iman yang wajib,jika ditinggalkan berdosa)
  2. المستحب (Kesempurnaan Iman yang, jika ditinggalkan tidak berdosa,namun terluput Kesempurnaan Imannya)
Adapun pernyataan penulis bahwa Iman memiliki 70 cabang lebih, dalilnya:
  • Dalam Hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).
Dalam hadits ini terdapat gambaran iman yang diperumpamakan dengan sesuatu yang bercabang, sebagai berikut:
Cabang Iman Qauliyyah/Ucapan lisan : ditunjukkan oleh “Ucapan La Ilaha Illallah”.
Cabang Iman ‘Amaliyyah/Amal Jawarih : ditunjukkan olehmenyingkirkan gangguan”.
Cabang Iman Qalbiyyah/Hati : ditunjukkan oleh “Malu”
Kesimpulan: Iman itu qoulun dan amalun, zhahir dan batin, inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

MATAN

Dalil mengenai rukun yang enam ini adalah firman Allah Ta’ala:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan (beragama ini), akan tetapi sesungguhnya kebajikan (agama ini) ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul.” [QS. Al-Baqarah [2]: 177]

Adapun dalil takdir adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir-takdir.” [QS. Al-Qamar [54]: 49].
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 177, disebutkan bahwa “Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul adalah bagian dari keimanan batin dalam agama Islam. Ini berarti dalil atas 5 Rukun Iman.
Adapun dalil bagi rukun Iman terhadap taqdir adalah QS. Al-Qamar [54]: 49.
Kalau kita perhatikan QS. Al-Baqarah [2]: 177 di atas, hanya disebutkan secara terang didalamnya 5 Rukun Iman, sedangkan satu Rukun Iman lainnya, yaitu Iman terhadap taqdir, tidak disebutkan secara terang.
Menjawab hal ini, kita katakan bahwa Iman terhadap taqdir masuk kedalam Iman kepada Allah, karena mentaqdirkan perkara adalah perbuatan Allah, dan pembahasan taqdir kembali kepada pembahasan ilmu Allah, kehendak-Nya, pencatatan taqdir dan penciptaan yang dilakukan oleh-Nya, yang semua ini masuk kedalam Rukun Iman yang pertama: Iman kepada Allah. Dengan demikian hakekatnya QS. Al-Baqarah : 177 itu mengandung 5 Rukun Iman
Dalil-dalil tentang rukun Iman.
1. Iman kepada Allah,
2. Malaikat-Nya,
3. Kitab-kitab-Nya,
4. Rasul-rasul-Nya,
5. Hari Akhir
secara terang (tersurat), dan mengandung Rukun Iman yang keenam, yaitu Iman terhadap taqdir secara tersirat.

MATAN

Tingkatan ketiga: Ihsan. Ihsan hanya memiliki satu rukun, yaitu:
« أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »
Engkau beribadah kepada Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya, jika engkau tidak bisa (beribadah dengan seolah-olah) melihat-Nya, maka (hayatilah bahwa) sesungguhnya Dia melihatmu.” [Shahih al-Bukhari: Kitab al-Iman (no. 50) dan Kitab tafsir al-Qur`an (no. 4777), Shahih Muslim: Kitab al-Iman (no. 8), Sunan an-Nasa`i: Kitab al-Iman wa Syaraa`i’ihi (no. 4990, 4991), Sunan Abu Dawud: Kitab as-Sunnah (no. 4695), dan Musnad Ahmad (I/27, I/51)].”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Ihsan adalah sebuah tingkatan dalam beragama Islam, bahkan ini adalah tingkatan yang tertinggi dalam beragama Islam. Setiap muhsin pastilah mukmin dan muslim, dan untuk meraih status muhsin, haruslah menjadi muslim dan mukmin terlebih dahulu.

Ihsan secara bahasa berbuat baik, lawan dari isa'ah : berbuat buruk.


Dan yang dimaksud Ihsan disini adalah ihsanul 'ibadah, artinya memperbagus ibadah kepada Allah, menyempurnakannya, baik secara zhahir maupun batin.

Kadar Ihsan dalam ibadah itu ada dua, yaitu:

1. Kadar minimal atau wajib, yaitu dengan memenuhi dua syarat diterimanya amal : ikhlas dan mutaba'ah. Ini kadar minimal sebuah amal disebut hasan (sholeh), dan perbuatannya disebut Ihsan (beramal dengan baik), pelakunya disebut muhsin.

2. Kadar yang mustahab (sunnah), kadar inilah yang dimaksud penulis sebagai tingkatan beragama Islam yang tertinggi.

Ihsan dalam beribadah yang musatahab inilah yang dimaksud Penulis, dan rukunnya ada satu, yaitu :
Engkau menyembah Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya, jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.

Sedangkan Ihsan dalam beribadah yang musatahab tersebut masih bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih tinggi dari yang lainnya.

Tingkatan Ihsan dalam beribadah ada dua tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan muraqabah (Keyakinan dilihat oleh Allah)
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Jika engkau tidak bisa (beribadah dengan seolah-olah) melihat-Nya, maka (hayatilah bahwa) sesungguhnya Dia melihatmu”

Maksudnya : menghadirkan penghayatan bahwa seorang hamba dilihat oleh Allah dalam beribadah.
Dan jenis ibadah yang bernuansa muraqabah ini adalah jenis ibadah lari (dari murka Allah) dan takut kepada Allah.

2. Tingkatan musyahadah (Menyaksikan)

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
Engkau beribadah kepada Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya”
Maksudnya :
Beribadah dengan keyakinan, keimanan, dan keikhlasan yang sempurna, serta ingat Allah dengan menghayati pengaruh nama dan sifat Allah dalam peribadatan, sehingga seolah-olah seorang hamba melihat Allah dalam beribadah kepada Allah.

Dan ini nuansa ibadahnya adalah ibadah mencari (ridho Allah), dan rindu/cinta untuk berjumpa dengan Allah, sehingga merasakan kelezatan dan ketenangan dalam beribadah.
Dan tingkatan ini lebih tinggi dari tingkatan Ihsan yang sebelumnya (tingkatan muraqabah).

MATAN
Dalil Ihsan adalah firman Allah Ta'ala:
(( إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ ))
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” [QS. An-Nahl [16]: 128]”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Dalam QS. An-Nahl [16]: 128, Allah kabarkan bahwa Dia bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan, maksudnya: Allah mengetahui keadaan mereka dan menolong, menehuhkan, serta memberi taufik kepada mereka.
Inilah yang disebut dengan kebersamaan Allah yang khusus yang berarti kebersamaan pertolongan, peneguhan dan pemberian taufik-Nya.

Nah, dalam ayat ini mereka yang mendapatkan kebersamaaan Allah yang khsusus disifati dengan dua sifat, yaitu: bertakwa dan berbuat ihsan.
Dengan demikian jelaslah bahwa ayat ini sebagai dalil tingkatan Ihsan dan balasan bagi muhsinun mendapatkan kebersamaan Allah yang khusus.



MATAN

Dan juga firman Allah Ta'ala:
(( وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ
(٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ))
Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Asy-Syu’araa [26]: 217-220].”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Dalam QS. Asy-Syu’araa [26]: 217-220, Allah mengkabarkan tentang diri-Nya, bahwa Dia melihat Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam saat beribadah kepada Allah, melihat pula perubahan gerak beliau saat sholat mengimami para sahabatnya, maka tentunya hal ini menuntut kita untuk berbuat Ihsan, sehingga ayat ini merupakan dalil salah satu dari tingkatan Ihsan, yaitu : tingkatan muraqabah
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
(menghadirkan penghayatan bahwa seorang hamba dilihat oleh Allah dalam beribadah).


MATAN
Dan firman-Nya pula:
(( وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ))
Tidaklah kamu berada dalam suatu keadaan dan tidak pula membaca suatu ayat dari Alquran dan tidak pula kalian mengerjakan suatu amal, melainkan Kami menyaksikan kalian di waktu kalian melakukannya.” [QS. Yunus [10]: 61].”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Dalam QS. Yunus [10]: 61 terdapat kabar bahwa Allah menyaksikan keadaan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya saat beribadah dan mengerjakan amal, melihatnya dan mendengar ucapan mereka, maka hal ini menuntut kita untuk berbuat Ihsan dalam beribadah, karena Allah melihat, mendengar menyaksikan, dan mengetahui keadaan hamba-Nya.
Sehingga ayat ini merupakan dalil dari Ihsan.

MATAN

Dalil dari as-Sunnah adalah hadits Jibril yang terkenal dari Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ، شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخْبِرْنِيْ عَنِ الْإِسْلَامِ. قَالَ: «أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً» فَقَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ. قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ. قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ: «مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا. قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الْأَمَّةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ» قَالَ: فَمَضَى، فَلَبِثْنَا مَلِيًّا. فَقَالَ: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِلِ؟» قُلْتُ: اَللَّهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «هَذَا جِبْرَائِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ أَمْرَ دِيْنِكُمْ»
Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menempelkan lututnya pada lutut beliau serta meletakkan tangannya di atas paha beliau,
selanjutnya dia berkata, ‘Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.’
Beliau menjawab, ‘Islam itu Anda bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, Anda mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika Anda mampu melakukannya.’ Orang itu berkata, ‘Engkau benar.’ Kami pun heran, dia yang bertanya tetapi dia pula yang membenarkan. Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Iman.’ Beliau menjawab, ‘Anda beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’ Beliau menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah dalam keadaan seolah-olah melihat-Nya, jika engkau tidak bisa (beribadah dengan seolah-olah) melihat-Nya, maka (hayatilah bahwa) sesungguhnya Dia melihatmu .’ Orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang Kiamat.’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.’ Selanjutnya orang itu berkata lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.’ Beliau menjawab, ‘Jika budak perempuan telah melahirkan anak majikannya, jika Anda melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.’ Kemudian pergilah ia, aku diam beberapa lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?’ Saya menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Ia adalah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.’” [Shahih: Shahih Muslim (no. 8), Sunan at-Tirmidzi (no. 2610)–penj].”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]


PENJELASAN

Hadits ini disebutkan di akhir pembahasan tentang Ma'rifatul Dinil Islam, sungguh hal ini adalah penempatan materi yang indah, karena dalam hadits ini terdapat rangkuman dari awal sampai akhir dari Ma'rifatul Dinil Islam, bahwa didalam menjalankan agama Islam terdapat tiga tingkatan, ketiga tingkatan ini, sebagian tingkatannya lebih tinggi dari yang lainnya.
Tingkatan Ihsan lebih tinggi dari tingkatan Iman, dan tingkatan Iman lebih tinggi dari tingkatan Islam.

Jadi setiap muhsin itu muslim dan mukmin, namun tidak setiap muslim itu mukmin dan muhsin.

Sehingga untuk bisa mencapai status mukmin, haruslah muslim terlebih dahulu, dan untuk bisa mencapai status muhsin, haruslah mukmin terlebih dahulu.

Tapi satu hal yang pasti bahwa muslimun, mukminun, dan muhsinun ketiga-tiganya adalah para pemeluk agama Islam, dan masing-masing tingkatan tetap saja memiliki keutamaan.

Dan diantara kandungan lainnya dari hadits ini adalah bahwa dalam hadits ini nampak penyebutan Islam dan Iman secara bersamaan, sehingga Islam digambarkan sebagai tingkatan melaksanakan amalan zhahir, adapun Iman digambarkan sebagai tingkatan melaksanakan amalan batin, meskipun masing-masingnya diiringi dengan kadar minimal pasangannya.

Referensi terjemah matan :

Tidak ada komentar