FIQIH RAMADHAN (5)

 


FIQIH RAMADHAN (5)

 

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

TARAWIH

-    Sholat tarawih lebih utama dilakukan di masjid daripada di rumah.

-    Sholat tarawih berjamaah dirumah, apakah makmum mendapatkan pahala sholat semalam suntuk? Jawaban : Diharapkan mendapatkan pahala semalam suntuk.[1]

-    Sholat Tarawih dengan dua imam yang belum ditutup dengan Witir, maka makmum akan mendapatkan pahala sholat semalam suntuk jika mengikuti dua imam sampai selesai, karena imam yang kedua adalah wakil dari imam yang pertama.[2]

-    Jumhur ulama Salaf dan kholaf[3]  berpendapat bahwa jumlah rakaat sholat malam (termasuk tarawih dalam Ramadhan) boleh lebih dari 11 rakaat (tidak ada batasan rakaatnya), tapi yang afdhol[4] 11 raka’at[5] atau 13 rakaat[6] dengan shalat yang lama dan bagus sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.[7]

-    Sholat Tarawih sunnahnya imam mengeraskan bacaannya, namun boleh jika dipelankan.[8]

-    Disyari'atkan do'a Qunut Witir pada rakaat terakhir dari sholat Witir, baik sesudah ruku’ (setelah membaca Sami'allahu liman hamidah, Rabbana walakalhamdu)[9], atau sebelum ruku’ (setelah membaca surat), namun menurut Jumhur Ulama yang lebih utama adalah dibaca sesudah ruku’, krn ini ditunjukkan oleh mayoritas hadits-hadits tentangnya.[10]

-    Ucapan Rabbana walakalhamdu itu wajib bagi imam, makmum dan orang yang shalat sendirian. Jika imam hanya mengucapkan Sami'allahu liman hamidah, tapi tidak mengucapkan Rabbana walakalhamdu dan langsung baca Qunut Witir, maka jika ia lupa atau tidak tahu hukumnya, shalatnya sah tapi ia sujud sahwi. Sedangkan jika ia sengaja meninggalkannya, maka shalatnya tidak sah[11] menurut banyak Ulama.

-    Qunut Witir boleh dibaca pada keseluruhan bulan Ramadhan, atau pada setengah bulan terakhir, dan boleh juga tidak dibaca. Namun yang paling baik Qunut Witir tidak terus menerus dirutinkan, cukup dilakukan terkadang saja, karena merutinkan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[12]. Ahli Fiqih sepakat disunnahkannya di separo terakhir Ramadhan. [13]

-    Disunnahkan mengangkat kedua telapak ketika do'a qunut witir, begitu pula pada Qunut Nazilah, karena dalam Hadits Shohih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengangkat kedua tangan saat Qunut Nazilah pada sholat wajib dan untuk Qunut Witir  disamakan hukumnya dan krn ini dilakukan oleh sejumlah sahabat radhiyallahu ‘anhum.

-    Mengangkat kedua tangan ketika do'a qunut witir dilakukan dari awal do’a qunut witir dan tata caranya adalah kedua telapak tangan dirapatkan[14] dan diangkat sejajar dengan dada[15].

-    Disunnahkan bagi makmum untuk mengucapkan amiin dan mengeraskannya bagi makmum pria, berdasarkan hadits hasan. Bahkan Umar radhiyallahu 'anhu pernah mengingkari makmumnya yang memelankan suara amiin.

 

LAILATUL QODAR

Keutamaan Lailatul Qodar

Beramal pada malam Lailatul Qodar lebih baik dari seribu bulan (lebih dari 83,5 tahun) yang tidak ada Lailatul Qadar padanya

 

Waktu Lailatul Qodar

Lailatul Qodar berpindah-pindah ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan[16], malam ganjilnya lebih besar peluangnya daripada malam genapnya[17], meskipun malam genap tetap berpotensi didapatkan Lailatur Qadar padanya sebagaimana disebutkan dalam Hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.[18] Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika masuk 10 malam terakhir Ramadhan, bersungguh-sungguh menghidupkan dengan peribadatan kepad Allah semata, sebagaimana dalam Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, muttafaqun ‘alaih.[19]

Maka jika mampu, carilah pada seluruh malam ganjil maupun genap dalam sepuluh malam terakhir.

Jika tidak mampu, carilah pada seluruh malam ganjil sebagaimana disebutkan dalam Hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullah dari Aisyah radhiyallahu ‘anha[20], yaitu malam (21,23,25,27,29).

 

Dan jika tidak mampu lagi, carilah pada seluruh malam ganjil pada malam (25,27,29) sebagaimana disebutkan dalam Hadits riwayat Al-Bukhari rahimahullah dari ‘Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu ‘anhu[21]

 

Tanda-tanda Lailatul Qodar

Malamnya cerah, tidak panas dan tidak dingin, paginya matahari terbit tanpa sorot sinar (bercahaya seperti cahaya bulan tanpa sorot)

 

Amalan yang dilakukan ketika malam Lailatul Qodar

Menurut Syaikh Bin Baz rahimahullah, amalan yang dilakukan untuk menghidupkan Lailatul Qodar adalah seluruh ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala[22], maka hendaknya seseorang menghidupkan Lailatul Qadar dengan sholat Tarawih, baca Alquran, do'a dan dzikir, shadaqah dan memperbanyak membaca :

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, yang mencintai maaf. Karna itu, berilah maaf kepadaku”. [Hadits shohih riwayat At-Tirmidzi dan selainnya], birrul walidain dan seluruh amal ibadah lainnya, terutama ibadah yang wajib.

 

Catatan :

Do'a pada sepertiga malam terakhir Lailatul Qodar[23] itu mustajab terlebih lagi jika :

-      Lafazh doanya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah,

-      Bersamaan dengan waktu mustajab lain, misal saat hujan

-      dilakukan dengan meyakini Allah akan mengabulkannya,  

-      dan dengan kondisi berdoa seperti kondisi doa orang yang sedang tenggelam di kegelapan laut, malam hari dan awan hujan lebat, dengan keyakinan tidak ada satupun yang menolong kecuali Allah semata.[24]

 

Tentunya semua itu diiringi dengan menghindari sebab tertolaknya doa.



[1]. https://Islamqa.info/ar/answers/339162/

[2]. https://share.google/qHkhcV1OGyargZx0e

[3]. Shahih Fiqhis Sunnah jilid 1 hal. 414

[4]. https://binbaz.org.sa/fatwas/4335/

[5]. Ash-Shahihain

[6]. HR. Al-Bukhari

[7]. https://Islamqa.info/ar/answers/9036/

[8]. https://binbaz.org.sa/fatwas/16029/

[9]. https://youtu.be/mXdbKpclLTI?si=8WTwMvYFyUBfTn5V

[10]. https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/126543/

[11]. https://youtu.be/mXdbKpclLTI?si=8WTwMvYFyUBfTn5V

[12]. https://share.google/iGLpB1ZX5AZGv87ae

[13]. https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/126543/

[14] https://share.google/2NRZUxZ2d32Q8zobo

[15] https://share.google/8RCppGbXDWu7h7FNA dan https://share.google/3XqqeQ32crKWy4Uxu

[16] Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, muttafaqun ‘alaih

[17] https://binbaz.org.sa/fatwas/12972/

[18] https://Islamqa.info/ar/answers/339526/ dan https://audio.Islamweb.com/audio/Fulltxt.php?audioid=312368

[19] https://share.google/hwzTwsmTpwWYriB1l

[20] https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/4540

[21] https://share.google/VBD0xxpoTR9zMbDm1

[22] https://binbaz.org.sa/fatwas/12972/

[23] https://audio.Islamweb.com/audio/Fulltxt.php?audioid=312368

[24] https://www.Islamweb.net/ar/fatwa/233665/ dan  https://share.google/qVx2YmqqnOu7Ug6cf

(Bersambung, in sya Allah)



Tidak ada komentar