Header Ads

Modal Dasar Berdoa pada Allah (7)


Seorang hamba membutuhkan Allah, baik dalam masalah ibadah maupun istianah (memohon pertolongan).

Dalam kitab Al-‘Ubudiyyah dan Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa kebutuhan seorang hamba kepada Allah Ta’ala merupakan kodrat hamba-Nya dan sebuah sifat yang melekat pada diri makhluk-Nya, namun penghayatan hamba-hamba-Nya terhadap rasa butuh mereka kepada Allah Ta’ala itu bertingkat-tingkat.

Diantara mereka ada yang sangat tinggi penghayatannya dalam merasa butuh kepada Rabb-nya sehingga membuahkan tawakal yang sangat kuat pula, meskipun ia tetap berusaha keras mengambil sebab demi meraih maslahat dan menghindari mudarat (kerugian, kerusakan dan bahaya), namun hatinya tetap bersandar hanya kepada Allah Ta’ala saja.
Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari dua sisi tinjauan, yaitu:

Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.

Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Berikut ini penjelasannya:

Pertama, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan.

Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi peribadahan, maksudnya bahwa seorang hamba butuh untuk menyembah dan menghamba hanya kepada Allah Ta’ala semata. Seorang hamba butuh untuk mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan pengagungan dan kecintaan ubudiyyah.

Hakikatnya hati seorang hamba tidaklah baik, tidaklah beruntung, tidaklah gembira, tidaklah merasa lezat, tidaklah merasa bahagia, dan tidaklah merasa tenang melainkan dengan menghamba, menyembah serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.

Meskipun ia mendapatkan semua kesenangan duniawi dari sesama makhluk, maka pastilah hal itu tidak akan membuat hatinya tenang, bahagia, dan lezat secara hakiki tatkala ia tidak menghamba, menyembah, serta beribadah kepada Allah Ta’ala saja.

Kebahagian, ketenangan, kelezatan yang hakiki di hati seorang hamba tidak akan diraih melainkan sampai Allah-lah satu-satunya Sesembahan yang hak, paling dicintai dan diagungkan dalam hatinya!

Kedua, seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan).

Seorang hamba membutuhkan Allah Ta’ala dari sisi istianah (memohon pertolongan), maksudnya:

Karena tujuan hidup seorang hamba adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja, maka dalam meraih tujuan hidupnya, menghamba kepada-Nya, tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, menerapkan hukum-Nya, dan melaksanakan syariat-Nya, seorang hamba sangatlah membutuhkan Allah Ta’ala dalam semua urusan tersebut, karena hakikatnya, ia tidaklah mampu melakukan satu saja dari perkara-perkara tersebut melainkan apabila Allah Ta’ala menolongnya dan memberi taufik-Nya kepadanya.

Oleh karena itu, dua perkara ini, yaitu: ibadah dan isti’anah kepada Allah Ta’ala semata adalah dua perkara yang sangat dibutuhkan oleh seorang hamba.

Ibadatullah, beribadah hanya kepada Allah Ta’ala adalah tujuan yang paling mulia, sedangkan isti’anah billah wahdah, memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala adalah sarana yang paling agung. Tujuan yang paling mulia itu tidaklah bisa diraih kecuali dengan sarana memohon pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala saja! Ketahuilah bahwa kedua hal yang paling mulia ini terdapat dalam surat Al-Fatihah.

Pantaslah apabila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

تأملت أنفع الدعاء فإذا هو سؤال العون على مرضاته ، ثم رأيته في الفاتحة في إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Saya perhatikan doa yang paling bermanfaat, maka (saya dapatkan) berupa permohonan pertolongan untuk meraih rida-Nya, kemudian saya mendapatkan doa tersebut terdapat dalam surat Al-Fatihah pada ayat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’.” [Asyru Qawa’id fil Istiqamah, Syaikh Abdur Razzaq, hal. 10].


[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah
Artikel: Muslim.or.id

Tidak ada komentar