Syarah Ushul Tsalatsah [12] - Tentang periode Madinah dan pendustaan terhadap Hari Kebangkitan

book lot on table
Istiqrar di Madinah sampai pendustaan terhadap Hari Kebangkitan

Matan

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyampaikan syiar-syiar Islam yang masih belum diturunkan sebelumnya, seperti zakat, puasa, haji, jihad, adzan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan syiar-syiar Islam lainnya.
Ini berlangsung selama 10 tahun dan setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Setelah hijrah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah,
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk menyampaikan syiar-syiar Islam yang masih belum diturunkan sebelumnya, seperti zakat, puasa, haji, jihad, adzan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan syiar-syiar Islam lainnya. Mengapa demikian?
Karena Madinah sudah menjadi negeri Islam, kota Madinah menjadi ibu kota pertama kali bagi kaum muslimin, sehingga kaum muslimin sudah mampu menunaikan Syari'at amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Ini termasuk rahmat Allah dan anugerah-Nya, bahwasanya Allah tunda pensyari'atan ajaran-ajaran tersebut sampai beliau hijrah ke kota Madinah sehingga beliau dan kaum muslimin siap melaksanakan ajaran-ajaran tersebut, sudah kokoh tauhid di hati mereka, dan sudah berdiri negara Islam pimpinan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama 10 tahun, mendakwahkan tauhid dan ajaran-ajaran Islam lainnya sampai sempurna.
Setelah Allah sempurnakan agama Islam ini, dan Allah sempurnakan nikmat-Nya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun shallallahu ‘alaihi wa sallam diwafatkan oleh Allah Ta'ala.


MATAN

Agama beliau lestari terjaga.
Begitu lah agama Islam, tidak ada kebaikan melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkannya kepada umatnya dan tidak ada keburukan melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkannya kepada umatnya. Kebaikan yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauhid dan seluruh perkara yang dicintai dan diridloi oleh Allah, dan keburukan yang diperingatkan adalah kesyirikan dan seluruh yang dibenci dan tidak disukai Allah.
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Agama yang beliau bawa tetap lestari terjaga sampai akhir zaman, Allah Ta'ala -lah yang menjaganya, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
(9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya. (Al-Hijr:9)

Perkataan Penulis : “Begitu lah agama Islam”, maksudnya adalah apa yang sudah dijelaskan Penulis sebelumnya, intinya adalah Mengenal Allah, agama Islam dengan dalil, dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tidak ada kebaikan melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkannya kepada umatnya dan tidak ada keburukan melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkannya kepada umatnya, hal ini dikarenakan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sosok yang amat kasih sayang terhadap kaum mukminin, sehingga berusaha agar tidak ada satupun kebaikan yang terluput dari kaum muslimin, dan jangan sampai ada satu keburukan dan bahaya yang menimpa umatnya.
Allah puji beliau dalam firman-Nya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” [QS. At-Taubah [9]:128].

Kebaikan terbesar, dan keburukan paling bahaya
Perkataan Penulis :
Kebaikan yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauhid dan seluruh perkara yang dicintai dan diridloi oleh Allah, dan keburukan yang diperingatkan adalah kesyirikan dan seluruh yang dibenci dan tidak disukai Allah” ini menunjukkan tauhid adalah kebaikan terbesar, dan syirik adalah keburukan paling bahaya, karena didahulukan penyebutannya. Dan hal ini sesuai dengan dalil dalam surat An-Nisa`:36 dan Al-An'am:151-153.


MATAN

Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia dan mewajibkan seluruh jin dan manusia mentaatinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: Wahai sekalian manusia! Aku adalah utusan Allah kepada kalian seluruhnya.” [QS. Al-Araf [7]: 158].
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Jelas sekali dari ayat di atas, bahwa Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia dan mewajibkan seluruh manusia mentaatinya. Adapun dalil yang menunjukkan beliau juga diutus kepada jin dan diwajibkan seluruh jin agar mereka mentaatinya adalah surat Al-Ahqaaf: 29.

MATAN

Allah menyempurnakan agama-Nya dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama bagi kalian dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku pada kalian serta telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” [QS. Al-Ma`idah [5]: 3]”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Karena agama Islam ini telah sempurna, berarti tidak ada tambahan dan tidak ada pula kekurangan sedikitpun, semuanya sudah lengkap diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka barangsiapa yang cara beragama Islamnya tidak menggunakan cara beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti hakekatnya ia telah menambah-nambah ajaran agama Islam yang sudah sempurna ini.
Dan ini haram, maka wajib seorang muslim beribadah dengan cara Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
MATAN
Dalil atas wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ (٣٠) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ

Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati. Kemudian, benar-benar kalian pada hari Kiamat berbantah-bantahan di sisi Tuhan kalian.” [QS. Az-Zumar [39]: 30-31]
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN


Jelas ayat ini menunjukkan bahwa beliau pasti wafat, maka barangsiapa yang mendustakan wafatnya beliau, dan menyatakan bahwa beliau bisa hadir di tengah-tengah manusia, berpindah-pindah atau keyakinan semisal itu, maka berarti ia mendustakan Alquran, dan kufur kepada Allah.

MATAN
Apabila manusia meninggal, mereka akan dibangkitkan kembali.
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Betapa indahnya Penulis menghubungkan matan ini dengan matan sebelumnya.
Bahwa matan sebelumnya yang barusan kita pelajari adalah tentang wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan matan ini adalah tentang penetapan hari Kebangkitan sesudah kematian.
Penulis membahas aqidah seorang muslim tentang hari Kebangkitan sesudah kematian ini karena di zaman beliau banyak orang yang mengingkari hari Kebangkitan sesudah kematian.
Nah, Penulis hendak memperingatkan bahwa hari Kebangkitan sesudah kematian itu keyakinan yang haq, barangsiapa yang mendustakannya maka ia telah kafir kepada Allah, tidak sah dikatakan muslim, meski sholat, puasa dan mengaku dirinya adalah seorang muslim!
MATAN
Dalil adanya kebangkitan setelah kematian adalah firman Allah Ta’ala:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari tanah itulah Kami menciptakan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain.” [QS. Thaha [20]: 55]
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Makna ayat tersebut adalah:
Dari tanah-lah, Allah menciptakan kita ketika menciptakan Nabi Adam 'alaihis salam, dan kedalam tanah juga, Allah akan mengembalikan kita dengan dimakamkan setelah mati.
Dari tanah-lah, Allah akan mengeluarkan kita, yaitu membangkitkan kita setelah kematian pada hari Akhir.

Dengan demikian ayat di atas adalah dalil atas adanya hari Kebangkitan setelah kematian.

MATAN
Dan juga firman Allah Ta’ala:

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (١٧) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا

Dan Allah menumbuhkan (menciptakan) kalian dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalam tanah dan mengeluarkan kalian dengan sebenar-benarnya.” [QS. Nuh [71]: 17-18]”

[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Ayat inipun maknanya sama persis dengan ayat sebelumnya, sehingga merupakan dalil atas adanya hari Kebangkitan setelah kematian.



MATAN

Setelah Kebangkitan, mereka dihisab dan dibalas amal-perbuatannya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

Suapaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” [QS. An-Najm [53]: 31]”
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN

Ayat ini dalil atas hisab dan jaza`, karena Allah kabarkan bahwa Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan dosa yang telah mereka kerjakan, dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik. Hal ini menunjukkan adanya perhitungan amal baik dan buruk, karena balasan dalam ayat ini disesuaikan dengan perbuatan pelakunya, dan ada pensifatan orang-orang dengan status orang-orang baik dan buruk, ini tentunya menunjukkan adanya hisab.

MATAN
Barangsiapa yang mendustakan hari Kebangkitan, maka dia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS. At-Taghabun [64]: 7]
[Sampai disini perkataan penulis rahimahullah]

PENJELASAN
Barangsiapa yang mendustakan hari Kebangkitan, maka dia kafir, dan ada saja orang yang meyakini bahwa menjalankan agama itu untuk kebahagiaan di dunia, yang nanti kalau sudah mati, ruhnya akan langsung berada dalam kenikmatan atau neraka, tanpa ada proses kebangkitan sesudah kematian!

Allah sifati orang model ini atau semisalnya dalam ayat di atas dengan kafir,
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan.
Dengan demikian benarlah pernyataan Penulis :
Barangsiapa yang mendustakan hari Kebangkitan, maka dia kafir”.

Referensi terjemah matan :

Tidak ada komentar